Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

Banner Kanan Agritek
Baner Kanan Bank
Banner Kanan Alsin
Banner Kanan Pupuk
Baner kanan katam

Kalender Kegiatan

puts2.jpg
INDIKATOR KESEJAHTERAAN PETANI DI SENTRA PRODUKSI PANGAN PROVINSI KALIMANTAN BARAT PDF
Senin, 19 Maret 2012 04:23

INDIKATOR KESEJAHTERAAN PETANI DI SENTRA PRODUKSI PANGAN PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Oleh

Rusli Burhansyah dan Melia Puspitasari

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat

Jl. Budi Utomo No. 45 Pontianak


Sektor pertanian sampai saat ini kenyataannya masih mampu tumbuh positif sekalipun pada saat dilanda krisis ekonomi ketika sektor lainnya tumbuh negatif. Namun demikian, usaha pertanian di desa belum mampu mengangkat perekonomian ke tingkat yang lebih tinggi dalam  meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Banyak desa yang berbasis pertanian rakyat (tanaman pangan maupun perkebunan) masih jauh ketinggalan dalam perkembangan perekonomiannya dibandingkan dengan desa di perkotaan (Arifin, 2003).

Banyak indikator variabel ekonomi yang berkait langsung dengan kesejahteraan masyarakat/petani telah meningkat, disamping itu juga terjadi penurunan di beberapa daerah termasuk di Kalmantan Barat. Dinamika tingkat kesejahteraan ekonomi di Kalimantan Barat, diindikasikan terus menurun sejak 10 tahun yang lalu. Indikator penurunan tersebut terlihat sepert pada kinerja indek pembangunan manusia (IPM-tanpa seutuhnya), tingkat pendapatan, daya beli dan nilai tukar petani (NTP). Pada bulan Februari 2009, kinerja NTP Kalbar mencapai 98,20 sebagai peringkat 21 secara nasional (posisi 1, 2 dan 3 adalah Maluku, DI Yogjakarta, dan Lampung dengan nilai NTP 109,46, 105,42, dan 105,29 (BPS Kalbar, 2009).

Gambaran dinamika beberapa kinerja usahatani tanaman pangan  dan beberapa indikator kesejahteraan masyarakat ditingkat regional Provinsi Kalimantan Barat tersebut merupakan cerminan dari hasil kinerja usahatani tanaman pangan ditingkat lokal 14 kabupaten/kota sampai ke daerah berbasis pertanian dan non pertanian yang berjumlah 1.861 desa/kelurahan.  Untuk menganalisis kinerja usahatani tanaman pangan pada seluruh daerah yang beraneka ragam persoalan merupakan hal yang mustahil.  Untuk itu perlu kajian indikator kesejateraan petani tanaman pangan di tiga Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Bengkayang.

METODOLOGI

Indikator Kesejahteraan Petani

Terdapat tiga aspek yang bisa menunjukkan indikator (penciri atau penanda) kesejahteraan petani, yaitu : (1) Perkembangan struktur pendapatan, (2) Perkembangan pengeluaran untuk pangan, (3) Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP).

(1). Perkembangan Struktur Pendapatan

Struktur pendapatan menunjukkan sumber pendapatan utama keluarga petani dari sektor mana, apakah dari sektor pertanian atau sebaliknya yaitu dari non pertanian.  Bagaimana peran sektor pertanian dalam ekonomi pedesaan ke depan.

(2).  Perkembangan Pengeluaran Untuk Pangan

Perkembangan pangsa pengeluaran untuk pangan dapat dipakai salah satu indikator keberhasilan ekonomi pedesaan.  Semakin besar pangsa pengeluaran untuk pangan menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga tani masih terkonsentrasi untuk memenuhi kebutuhan dasar (subsisten).  Demikian sebaliknya, semakin besar pangsa pengeluaran sektor sekunder (non pangan), mengindikasikan telah terjadi pengeseran posisi petani dasri subsisten kekomersial. Artinya kebutuhan primer telah terpenuhi, kelebihan pendapatan dialokasikan untuk keperluan lain misal pendidikan, kesehatan dan kebutuhan sekunder lainnya.  Secara sederhana pangsa pengeluraran untuk pangan dapat dihitung sebagai berikut :

(3)   Perkembangan Nilai Tukar Petani

Secara konsepsi NTP merupakan alat pengukur daya tukar dari komoditas pertanian yang dihasilkan petani terhadap produk yang dibeli petani untuk keperluan konsumsi dan keperluan dalam memproduksi usahatani (Rachmat, M, 2000, Supriyati et.al., 2000, Simatupang P., 2005). Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan nisbah antara harga yang diterima (HT) dengan harga yang dibayar petani (HB) yang dirumuskan sebagai berikut (BPS, 2008, Nurmanaf R, et.al.,2005, Irawan B, et.al.2007, Sudana W., et.al.2007).

Struktur Pendapatan Rumah Tangga Petani

Dari hasil analisis struktur pendapatan pada 3 kabupaten  menunjukkan bahwa sektor pertanian memberikan share yang besar terhadap total pendapatan rumah tangga petani.  Dari data  pendapatan rumah selama 3 tahun (2007 s/d 2009) pada kabupaten Kubu Raya terjadi trend penurunan sekitar 11,53%. Pada kabupaten Sanggau terjadi trend peningkatan sebesar 18,61%.  Hal ini terjadi karena penurunan dari sektor pertanian yang diakibatkan  kegagalan panen padi dari serangan tikus dan intrusi air laut.  Pada kabupaten Sanggau kenaikan pendapatan rumah tangga petani berasal dari sektor pertanian khususnya tanaman padi. Peningkatan produktivitas padi khususnya di desa Tunggal Bhakti dari 3 ton/ha menjadi 4,2 ton/ha.

Struktur Pengeluaran Rumah Tangga

Secara umum pengeluaran untuk pangan masih lebih besar daripada non pangan kecuali di kabupaten Bengkayang. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan petani belum begitu baik. Proporsi pengeluaran pangan untuk rumah tanagga petani masih besar, untuk pemenuhan kebutuhan pengeluaran untuk pendidikan, dan kesehatan masih jauh dari harapan

Pengeluaran rumah tangga erat kaitannya dengan ketahanan pangan. Menurut Hukum Engel pangsa pengeluaran pangan terhadap pengeluran rumah tangga akan berkurang dengan meningkatnya pendapatan (Deaton dan Muellbauer, 1980).  Hal ini sesuai dengan hasil analisis pengeluaran rumah tangga petani pada 3 kabupaten sampel.  Pengeluaran rumah tangga petani yang paling besar di kabupaten Bengkayang. Proporsi pengeluaran pangan terhadap total pengeluaran rumah tangga petani yang kecil tersebut di kabupaten Bengkayang.  Pengeluaran digunakan untuk kebutuhan lain-lain (19,58%), pendidikan (17,39%) dan transportasi (7,72%)

Dari hasil pengkajian selama 3 tahun dari tahun 2007 sampai 2009, terjadi pergerseran struktur pengeluaran rumah tangga petani. Pada tahun 2007 sebagian besar pengeluaran (lebih dari 60%) untuk pangan. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan pengeluaran untuk non pangan, artinya kebutuhan non pangan yang bersifat sekunder sudah diperhatikan baik oleh rumah tangga di enam lokasi pengkajian.


Nilai Tukar Petani

Nilai Tukar Petani didefinisikan sebagai rasio antara indeks harga yang diterima dengan indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase), merupakan salah satu indikator relatif tingkat kesejahteraan petani. Semakin tinggi NTP, relative semakin sejahtera tingkat kehidupan petani (BPS Kalimantan Barat, 2008). Nilai Tukar Petani merupakan ukuran kemampuan daya tukar barang (produk) pertanian yang dihasilkan petani dengan barang dan jasa yang dikonsumsi.  Semakin tinggi nilai tukar petani berarti semakin tinggi tingkat daya beli petani, dan kondisi ini akan meningkatkan gariah petani dalam berproduksi.

Nilai Tukar Petani rata-rata terbesar pada kabupaten Sanggau diikuti kabupaten Kubu Raya dan kabupaten Bengkayang. Pada awal tahun NTP pada semua kabupaten  masih cukup baik, namun memasuki bulan Oktober 2009 NTP dibawah 100 terutama di kabupaten Bengkayang.  Kondisi ini terjadi karena mahalnya harga kebutuhan pokok di kabupaten Bengkayang akibat jalan yang rusak dan permintaan kebutuhan barang yang tinggi namun disisi penerimaan, harga yang diteima oleh petani mengalami penurunan yang cukup signifikan.

KESIMPULAN DAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN

Indikator kesejahteraan petani  yang ditunjukkan dengan (a) struktur pendapatan rumah tangga petani, (b) struktur pengeluaran rumah tangga, (c) nilai tukar petani, di enam desa lokasi pengkajian secara umum mengindikasikan derajat cukup baik.

Sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan rumah tangga petani di lokasi pengkajian.  Selama tiga tahun terakhir ( 2007 s/d 2009) kontribusi sektor pertanian di Kabupaten Sanggau naik, sebaliknya di kabupaten Kubu Raya terjadi penurunan.

Pengeluaran rumah tangga petani sebagian besar dialokasikan pada pangan.  Adanya peningkatan pengeluaran non pangan mengindikasikan bahwa kebutuhan non pangan yang bersifat sekunder sudah diperhatikan baik oleh rumah tangga di enam lokasi pengkajian.

Nilai Tukar Petani secara rata-rata di atas 100 (Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Sanggau), Kabupaten Bengkayang dibawah 100. Faktor-faktor yang mempengaruhi Nilai Tukar Petani di lokasi pengkajian antara lain; inflasi harga , dan kondisi infrasturktur. Untuk meningkatkan nilai tukar petani diperlukan upaya menyelueruh berupa intervensi dalam hal kebijakan harga output (gabah dan jagung) dan harga input (pupuk).

Memperluas kesempatan kerja di luar usahatani melalui peningkatan industri di pedesaan yg berbasis sumberdaya lahan, tanaman, manusia dan memperbaiki akses petani terhadap sumber-sumber pembiayaan untuk investasi, serta memperbaiki prasarana dan sarana pertanian dan perdesaan.

Untuk meningkatkan pendapatan rumahtangga pertanian di pedesaan, kebijakan pemerintah yang dapat ditempuh adalah: (i) meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, (ii) mengembangkan infrastruktur di pedesaan, (iii) meningkatkan aksesibilitas modal bagi petani, dan (iv) mengembangkan industri pedesaan/agro-industri yang mampu memberikan nilai tambah terhadap produk primer dan menyerap tenaga kerja di perdesaan.

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com