Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

Banner Kanan Alsin
Baner kanan katam
Banner Kanan Agritek
Baner Kanan Bank
Banner Kanan Pupuk

Kalender Kegiatan

puts2.jpg
KAJIAN BEBERAPA VARIETAS UNGGUL BARU PADI DENGAN PENDEKATAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) PADA LAHAN PASANG SURUT PDF
Senin, 19 Maret 2012 04:40

KAJIAN BEBERAPA VARIETAS UNGGUL BARU PADI

DENGAN PENDEKATAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT)

PADA LAHAN PASANG SURUT

Oleh

Sution dan Tuti Sugiarti

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat

Jl. Budi Utomo No.45 Siantan Hulu Kalimantan Barat

Beras merupakan sumber utama gizi dan energi bagi 90% penduduk Indonesia, dengan tingkat konsumsi rata-rata 141 kg/kapita/tahun, sehingga dibutuhkan 30,5 juta ton beras atau setara dengan 48,4 juta ton GKG/tahun. Upaya pengembangan dan peningkatan produksi beras nasional mutlak diperlukan dengan sasaran utama pencapaian swasembada, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Sebagai bangsa yang besar Indonesia harus mandiri pangan sebagai kunci dari ketahanan nasional. Untuk itu maka pemerintah mencanangkan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) 2 juta ton pada akhir tahun 2007 dan peningkatan produksi sebesar 5% per tahun sampai tahun 2009. Pelaksanaan P2BN di Kalimantan Barat pada tahun 2007 menargetkan tanam padi sekitar 133.698 ha. Luas panen tanaman padi di Kalimantan Barat 399.832 ha, dengan rata-rata produksi 3,06 ton/ha dengan tingkat produksi 1.225.259 ton. Sedangkan di Kabupaten Sambas yang merupakan sentral tanaman padi mempunyai luas panen 78.515 ha, atau (19,6% dari luas tanam di Kalbar), rata-rata produksi 3,24 ton/ha dengan produksi 254.610 ton.

Strategi yang digunakan untuk Peningkatan Produksi Beras Nasional yaitu melalui peningkatan produktivitas tanaman dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), yang dilakukan melalui pendekatan dalam pengelolaan lahan, air, tanaman dan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Konsep ketahanan pangan yang dicanagkan oleh pemerintah akan sulit tercapai apabila hanya mengandalkan produksi padi dari lahan sawah irigasi. Kondisi saat ini banyak terjadi alih fungsi lahan pertanian dan semakin menurunya produktivitas lahan sawah akibat pengusahaan lahan secara intensif. Dengan demikian perlu mencari sumber pertumbuhan produktif padi pada ekosistem lainnya selain terus mengupayakan peningkatan hasil padi pada lahan sawah dengan berbagai cara, termasuk pengembangan padi hibrida, padi tipe unggul baru dan pengelolaan secara tanaman terpadu.

Salah satu agroekosistem yang memiliki prospek untuk dijadikan areal produksi pangan, terutama tanaman padi adalah lahan pasang surut. Lahan tersebut merupakan lahan marginal memiliki kesuburan tanah yang rendah dan beragam sehingga memiliki kendala dalam pengelolaannya. Lahan pasang surut juga dikenal sebagai lahan bermasalah, terutama mengenai pirit yang tinggi, menimbulkan keasaman dan keracunan sehingga tidak semua varietas padi dapat tumbuh baik. Untuk itu dilakukan uji adaptasi beberapa varietas  unggul baru yang mempunyai potensi hasil tinggi seperti Inpara 1, Inpara 2, Air Tenggulang dan Ciherang sebagai varietas pembanding yang sudah lama di tanam oleh petani. Uji adaptasi varietas Inpara 1, Inpara 2 dan Air Tenggulang dilakukan didasari oleh luasnya lahan pasang surut di Kabupaten Sambas sedangkan varietas yang selalu ditanam adalah varietas ciherang, oleh sebab itu uji adaptasi ini dilakukan untuk mencari varietas yang cocok dan sesuai sehingga petani tidak terpaku pada varietas ciherang saja.

METODE PELAKSANAAN

Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Segedong Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas, yang dilaksanakan pada bulan Juni sampai Oktober 2009, dengan menggunakan varietas Air Tenggulang kelas BS, Inpara 1 dan Inpara 2 kelas FS dan Ciherang hasil panen petani dengan luasan 1 ha.

Sebelum dilakukannya pengkajian terlebih dahulu dilakukan PRA untuk menggali masalah utama yang dihadapi petani, melakukan penyusunan komponen teknologi yang sesuai dengan karakteristik wilayah dan menerapkan paket teknologi utama PTT yang bersifat spesifik lokasi. Paket teknologi yang diterapkan dilokasi kegiatan pengkajian tertera pada tabel 1.

 

 

Tabel 1.   Komponen Teknologi Padi Pasang Surut dengan Pendekatan PTT dan Pola petani


No

Komponen Teknologi dengan Pendekatan PTT

Komponen Teknologi dengan

pola Petani

1

 

 

2

 

3

 

 

 

4

 

 

5

 

 

6

Varietas Air Tenggulang, Inpara 1 dan Inpara 2

 

Benih bermutu dan sehat lebel putih dan  Ungu (Pokok)

 

Dosis pupuk berdasarkan anlisis tanah (SP-36 105 kg/ha, KCl 40 kg/ha. Urea 220 kg/ha dan pupuk organik Petroorganik 500 kg/ha)

 

Pengendalian hama terpadu sesuai OPT sasaran

 

Jumlah bibit yg ditanam 2-3 bibit & cara tanam legowo 4:1

 

Umur bibit  15 – 21 hari

Varietas Ciherang

 

 

Benih yg digunakan berasal dari hasil panen sebelumya

 

Dosis pupuk urea 50 kg/ha dan NPK Phonska 40 kg/ha, tergantung pada kemampuan petani untuk membeli

 

Penggunaan pestisida tidak sesuai anjuran

 

Jumlah bibit yg ditanam 3-6 bibit & cara tanam tegel yg tidak beraturan

Umur bibit 25 – 30 hari

 

HASIL


Karakteristik dan Status Lokasi Pengkajian

Pengelolaan air dan tanah secara tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan pengembangan usahatani padi di lahan pasang surut. Lahan bertipe luapan C dan D tidak memungkinkan dilakukan irigasi karena sumber air hanya dari hujan dan hutan. Lahan pasang surut tipologi potensial dan sulfat masam mempunyai prospek yang baik untuk diaplikasikan dengan bahan organik. Bahan organik dalam bentuk yang telah dikomposkan ataupun segar berperan penting dalam perbaikan sifat kimia, fisika dan biologi tanah serta sumber nutrisi tanaman.

Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi

Dari ketiga varietas padi introduksi yang ditanam tinggi tanaman rerata yang diukur pada saat panen, hasilnya dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini

 

 

Tabel  2.   Keragaan Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi Pada Lahan Pasang Surut

 

Komponen hasil

Varietas Unggul Baru

Inpara 1

Inpara 2

Air Tenggulang

Ciherang (Petani)

Tinggi tanaman (cm)

87.6 a

78.4 b

79 b

68.2 c

Jml Anakan Produktif

19.8 a

20 a

14.2 b

9.1 c

Jml Gabah (Bulir)

133.6 a

107.4 b

105.4 b

79.2 c

Jml Gabah Bernas (%)

84.7 a

89.1 a

89.7 a

68.8 b

Produksi gkp (ton/ha)

3.75

3.55

3.4

1.5

 

Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda tidak nyata menurut uji lanjut DMRT pada taraf 5%.

 

 

Dari ketiga varietas ini ternyata cocok untuk lahan pasang surut, namun produksi ini masih rendah dibandingkan deskripsi varietas Inpara 1 (5,65 ton/ha), Inpara 2 (5,49 ton/ha) dan Air Tenggulang (5 ton/ha). Hal ini disebabkan karena pada saat pengkajian rata-rata curah hujan kurang dari 150 mm/ bulan. Kondisi kesuburan tanah pada daerah pengkajian tergolong rendah, pengolahan lahan belum sempurna serta adanya serangan hama tikus dan walang sangit yang cukup tinggi.

Melihat pertumbuhan dan produksi tanaman padi varietas Inpara 1, Inpara 2 dan Air Tenggulang, petani dan petugas lapang merasa tertarik untuk terus menanam untuk musim tanam selajutnya, namun yang sangat disukai adalah Inpari 1 karena tahan terhadap kekeringan.

Selain penerapan teknologi yang tepat, faktor alam seperti anomali iklim juga sangat menentukan terhadap produksi dan keuntungan petani. Bukti nyata pentingnya inovasi teknologi dalam pembangunan pertanian dapat dilihat antara lain dari peningkatan produksi padi dari tahun ketahun. Penurunan produksi padi lebih banyak disebabkan oleh serangan hama penyakit dan anomali iklim.

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com