Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

Banner Kanan Pupuk
Baner kanan katam
Banner Kanan Agritek
Baner Kanan Bank
Banner Kanan Alsin

Kalender Kegiatan

puts.jpg
TEKNOLOGI PENGENDALIAN PECAH BUAH PADA JERUK KEPROK TERIGAS DI KABUPATEN SAMBAS, KALIMANTAN BARAT PDF
Senin, 19 Maret 2012 04:44

TEKNOLOGI PENGENDALIAN PECAH BUAH PADA JERUK KEPROK TERIGAS

DI KABUPATEN SAMBAS, KALIMANTAN BARAT

Oleh

Arry Supriyanto, M. Zuhran, Azri, Tommy Purba, dan Budi Abduchalek

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat

Jl. Budi Utomo No.45 Siantan Hulu Kalimantan Barat

Di Kabupaten Sambas, jeruk merupakan komoditas pertanian unggulan yang diharapkan dapat memberi kontribusi besar terhadap perekonomian masyarakat dan pembangunan wilayah secara umum. Saat ini, jenis jeruk di Kabupaten Sambas masih didominasi oleh Siam Pontianak. Dalam beberapa tahun terakhir ini petani juga mulai mencoba mengembangkan jenis jeruk yang baru dengan harga jual lebih tinggi yaitu Keprok Terigas. Pengembangan Jeruk Keprok Terigas dilakukan melalui penanaman baru maupun penggantian Siam Pontianak yang sudah ada melalui teknologi top working.

Meskipun petani memiliki antusiasme yang tinggi untuk menanam Jeruk Keprok Terigas, namun  pengembangan jenis jeruk yang lebih komersial ini masih terhambat oleh banyaknya buah yang pecah sebelum siap dipanen. Pecah buah umumnya terjadi pada fase buah dalam pertumbuhan cepat yaitu buah dengan ukuran diameter berkisar 3,7-5,4 cm. Pecah buah di tingkat petani dapat mencapai 40-60%, bahkan di musim kemarau tahun 2009 tanaman Jeruk Keprok Terigas yang dikelola dengan teknologi petani mengalami pecah buah hingga sekitar 90%. Tingginya persen buah yang pecah tersebut sangat merugikan sehingga banyak petani yang sudah menanam Jeruk Keprok Terigas merasa kecewa. Masalah tersebut juga membuat banyak petani yang membatalkan rencananya untuk menanam Jeruk Keprok Terigas. Mengingat seriusnya masalah pecah buah dalam pengembangan Jeruk Keprok Terigas, maka BPTP Kalimantan Barat pada tahun 2010 melakukan pengkajian untuk mendapatkan teknologi yang dapat mengendalikan pecah buah tersebut.

Hasil Pengkajian

Pecah buah merupakan masalah yang sangat ditakuti petani Jeruk Keprok Terigas. Beberapa literatur menyatakan bahwa terjadinya pecah buah dapat disebabkan oleh fluktuasi yang ekstrim dari kadar air, suhu, dan kelembaban tanah. Hal ini sejalan dengan pengamatan di lapangan yang menunjukkan bahwa pecah buah sering terjadi ketika turun hujan setelah mengalami masa kering (kemarau) yang panjang dimana pada saat itu terjadi peningkatan kadar air dan kelembaban tanah yang sangat besar diiringi suhu tanah yang menurun secara nyata. Selain itu, kekurangan hara tertentu terutama Kalsium (Ca) dan Boron (B) diinformasikan juga dapat menjadi pemicu mudahnya kulit buah mengalami keretakan sehingga terjadilah pecah buah. Kekurangan kandungan Ca dalam tanaman membuat permeabilitas sel menjadi lemah sehingga ketika terjadi penyerapan air dan hara yang mendadak pada saat terjadinya hujan setelah masa kering yang panjang tidak mampu diimbangi sel kulit buah sehingga sangat rentan terhadap pecah buah.

Untuk mengatasi masalah pecah buah tersebut, maka perlu dilakukan upaya-upaya untuk menangani faktor-faktor penyebab pecah buah tersebut. Untuk itu, pada tahun 2010 BPTP Kalimantan Barat melakukan pengkajian menggunakan metode Split Plot Design sebagai berikut:

  1. Petak Utama, terdiri dari:

1)  Lahan dengan parit digenangi, yaitu lahan jeruk yang parit drainasenya digenangi selama tidak ada hujan

2)  Lahan dengan parit tidak digenangi, yaitu lahan jeruk yang parit drainasenya tidak digenangi selama tidak ada hujan (dibiarkan kering)

  1. Anak Petak, terdiri dari:

1)  Pupuk anorganik (teknologi petani)

2)  Pupuk anorganik + pupuk organik + mulsa

3)  Pupuk anorganik + pupuk organik + mulsa + (Ca + B)

Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan bahwa tanaman Jeruk Keprok Terigas dari semua perlakuan mulai mengalami pecah buah saat buah berumur 18 minggu setelah bunga mekar (MSBM). Saat buah berumur 20 MSBM, semua tanaman contoh dari lahan dengan parit tidak digenangi telah mengalami pecah buah, sedangkan pada lahan dengan parit digenangi semua tanamannya baru mengalami pecah buah pada umur buah 22 MSBM. Artinya, penggenangan parit mampu memperlambat buah untuk tidak cepat pecah jika terjadi perubahan dari relatif kering ke basah karena turun hujan.

Pengamatan pecah buah yang dilakukan hingga buah memasuki fase masak fisiologis (umur buah 34 MSBM), menunjukkan bahwa terjadinya pecah buah pada lahan dengan parit digenangi selama tidak terjadi hujan lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman pada lahan yang paritnya tidak digenangi ketika tidak terjadi hujan. Fakta ini menyampaikan kepada kita bahwa adanya penggenangan air pada parit kebun dapat mengurangi fluktuasi kadar air, suhu, dan kelembaban yang besar ketika terjadi transisi dari kondisi tanah kering ke kondisi tanah basah sehingga buah tidak banyak yang mengalami pecah.

Pada perlakuan pemberian hara, pemberian pupuk organik, pupuk anorganik, mulsa, serta penambahan hara Ca dan B ternyata memberikan dampak pada lebih sedikitnya buah yang pecah dibandingkan tanaman yang hanya diberi pupuk anorganik (teknologi petani), bahkan juga lebih sedikit dibandingkan tanaman yang hanya diberi pupuk organik, pupuk anorganik dan mulsa. Hal ini menunjukkan adanya peranan yang besar dari hara mikro tersebut dalam meningkatkan permeabilitas sel sehingga lebih mampu mengimbangi pembesaran buah yang cepat ketika turun hujan akibat tanaman menyerap hara dan air yang lebih banyak dibandingkan saat musim kemarau dimana hara banyak yang tidak terlarut dan sulit diserap tanaman.


Tabel 1. Jumlah pecah buah pada Jeruk Keprok Terigas dari setiap perlakuan pengkajian.


Perlakuan

Jumlah Buah Pecah (%)

  1. A. Lahan dengan parit digenangi
    1. Pupuk anorganik (teknologi petani)
    2. Pupuk organik + pupuk anorganik + mulsa
    3. Pupuk organik + pupuk anorganik + mulsa + (Ca + B)

30,15

26,02

19,75

  1. B. Lahan dengan parit tidak digenangi
  2. Pupuk anorganik (teknologi petani)
  3. Pupuk organik + pupuk anorganik + mulsa
  4. Pupuk organik + pupuk anorganik + mulsa + (Ca + B)

47,25

42,17

30,23


Sumber: Supriyanto et al.  (2010).

Untuk mengurangi terjadinya pecah buah, diperlukan pemberian hara yang cukup melalui pupuk anorganik maupun pupuk organik. Selain menambah hara tanah, pupuk organik sebenarnya lebih diperlukan sebagai penyerap dan pengikat air dalam tanah sehingga kadar air, suhu dan kelembaban tanah tidak terlalu berfluktuasi ketika terjadi perubahan dari musim kemarau ke musim hujan. Demikian pula mulsa, perannya sangat diperlukan untuk mengurangi penguapan air tanah dimusim kemarau sehingga kadar air tanah tidak cepat berkurang yang dapat memicu berkurangnya kelembaban tanah dan peningkatan suhu tanah.

Kesimpulan

Pecah buah yang umumnya terjadi pada saat buah berkembang di fase pertumbuhan cepat dapat diakibatkan oleh fluktuasi ekstrim kadar air, suhu, kelembaban tanah, serta serapan hara. Pecah buah sering terjadi ketika turun hujan setelah mengalami masa kering yang panjang. Upaya yang dapat digunakan untuk mengurangi terjadinya pecah buah adalah dengan menggenangi parit drainase kebun ketika tidak terjadi hujan (musim kemarau) yang diimbangi dengan pemberian pupuk anorganik, pupuk organik, pemasangan mulsa, serta dengan penambahan hara Kalsium (Ca) dan Boron (B).

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com