Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

Baner Kanan Bank
Banner Kanan Alsin
Banner Kanan Pupuk
Baner kanan katam
Banner Kanan Agritek

Kalender Kegiatan

tomcat2.jpg
MKRPL PDF Cetak E-mail

MODEL KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI DI KOTA PONTIANAK, KABUPATEN KUBU RAYA, KABUPATEN PONTIANAK DAN KOTA SINGKAWANG- PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Pendahuluan

Berbagai program untuk mendukung ketahanan pangan telah banyak diluncurkan. Beberapa dekade lalu sudah pernah diimplementasikan oleh pemerintah melalui program PKK dan Dasa Wisma, namun sempat ditinggalkan. Kemudian berlanjut ke Program Ketahanan Pangan dan Gizi Terpadu, melalui program Plan International Indonesia. Sekarang mulai dicanangkan lagi pemanfaatan lahan pekarangan untuk mendukung ketersediaan pangan dan gizi di tingkat rumah tangga.

Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) dilaksanakan di Daerah-daerah implementasi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota melalui integrasi berbagai kegiatan dalam mewujudkan pengembangan ekonomi lokal, baik dari segi pelaksanaan maupun pembiayaan.

 

Gerakan Perempuan untuk Optimalisasi Pekarangan (GPOP) yang menjadi dasar pelaksanaan adalah Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber daya Lokal yang implementasinya adalah pemberdayaan kelompok wanita melalui Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan. Tujuan GPOP adalah untuk memberdayakan perempuan perdesaan dan perkotaan melalui optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan. Komoditas utama yang dioptimalkan adalah cabai keriting, cabai rawit, sayuran, tanaman obat dan tanaman hias (Suswono, 2010).

Gerakan nasional Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) telah dilounching Presiden tanggal 13 Januari 2012 di Pacitan Jawa Timur untuk di replikasikan di tiap provinsi. Kementerian Pertanian menyusun suatu konsep yang disebut “Model Kawasan Rumah Pangan Lestari” (M-KRPL) dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga. Ketiga program tersebut mempunyai tujuan yang sama untuk meningkatkan kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan meningkatkan pola pangan harapan (PPH). Kegiatan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) terdapat komponen Diversifikasi Pangan untuk penganekaragaman konsumsi pangan dari bahan baku pangan lokal non beras untuk peningkatan gizi keluarga.

 

Program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), Gerakan Perempuan Untuk Optimalisasi Pekarangan (GPOP) dan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) punya tujuan sama yaitu menggerakan perempuan dan optimalisasi pekarangan.

Pemberdayaan pekarangan untuk menyediakan kebutuhan pangan dan gizi keluarga untuk di tanami cabai keriting, cabai rawit, aneka sayuran, tanaman obat dan tanaman hias, selebihnya dapat di jual untuk pendapatan keluarga. Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) dalam pelaksanaannya perlu didukung oleh instansi terkait, perangkat desa dan elemen masyarakat.

Luas lahan pekarangan secara nasional sekitar 10,3 juta ha atau 14 % dari keseluruhan luas lahan pertanian, dan khusus Provinsi Kalimantan Barat mempunyai potensi lahan pekarangan sekitar 10 ribu ha. Luasan tersebut belum termanfaatkan lahan pekarangan merupakan salah satu sumber potensial penyedia bahan pangan yang bernilai gizi dan memiliki nilai ekonomi tinggi khususnya komoditas pangan.

Program pemanfaatan lahan pekarangan untuk memperkuat ketahanan pangan mencapai 500 ribu ha yang akan diluncurkan oleh pemerintah pusat. Pemanfaatan lahan pekarangan ini difokuskan pada tanaman yang menjadi kebutuhan sehari-hari meliputi umbi-umbian, tanaman toga, produk hortikultura seperti sayuran, cabai, tomat, dan perternakan/perikanan, sekaligus untuk diversifikasi produk pangan masyarakat.

Wilayah Kalimantan Barat kaya akan sumberdaya genetik untuk pertanian (pangan dan hortikultura), sumberdaya lahan pekarangan pemanfaatannya belum optimal. Produk pertanian lokal non beras seperti umbi-umbian, produk hortikultura seperti sayuran dan buah serta peternakan/perikanan belum optimal pemberdayaannya. Semantara permintaan pasar terhadap produk pangan non beras cukup tinggi, hal tersebut tercermin pada harga produk relatif tinggi.

Masalah adalah kurangnya fasilitasi kebijakan pemerintah dan dukungan anggaran yang dapat mendorong dan memberikan insentif bagi masyarakat dalam pemberdayaan lahan pekarangan dalam diversifikasi konsumsi pangan. Selain itu, masih dirasakan kurangnya fasilitasi pemberdayaan ekonomi dan pengetahuan untuk meningkatkan aksesibilitas pada pangan beragam dan bergizi seimbang. Dengan kondisi tersebut diperlukan komitmen pemerintah untuk melibatkan dan mendukung rumah tangga dalam mewujudkan kemandirian pangan dalam menggerakkan lagi budaya menanam di lahan pekarangan, baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Kelembagaan yang berpotensi untuk dikembangkan mendukung M-KRPL antara lain kelembagaan kelompok tani dan kelompok PKK dengan melibatkan kelembagaan permodalan dan pemasaran. Proses pengembangan dan penguatan kelembagaan dan penerapan teknologi pangan melalui gerakan perempuan dan optimalisasi pemanfaatan pekarangan.

Rancang Bangun Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL), perlu diwujudkan dalam satu dusun yang telah menerapkan prinsip RPL dengan pemanfaatan pagar hidup, jalan desa, dan fasilitas umum (sekolah, rumah ibadah, dll), serta mengembangkan pengolahan dan pemasaran hasil. Rumah Pangan Lestari terdapat empat substansi yang mendukung satu sama lain saling melengkapi dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga. Adapun substansi dari Model Kawasan Rumah Pangan Lestari adalah sebagai berikut:

  1. 1. Kemandirian pangan rumah tangga

Adalah kemampuan kepala rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan konsumsi protein nabati dan hewani sehari-hari untuk keluarganya. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk di tanami aneka tanaman sayuran yang biasa dikonsumsi. Aneka sayuran yang di tanam dalam bentuk pot/ polibag meliputi tanaman sawi, bayam, cabe, caisin, kangkung, seledri, Tomat, Terong, Bawang Daun dan sejenisnya. Protein hewani hasil pemanfaatan lahan pekarangan seperti ayam, telor ayam, ikan, kelinci.

 

Rumah Tangga Petani dapat dikelompokan menjadi 3 Klaster yaitu:

  1. Rumah Tangga dengan luas pekarangan sempit < 120 m2,
  2. Rumah Tangga dengan luas pekarangan sedang (120 m2 – 400 m2)
  3. Rumah Tangga luas pekarangan > 400 m2 untuk usaha sayuran, ikan dan ternak.

 

Pengelompokan Lahan Pekarangan: Dibedakan atas pekarangan perkotaan dan perdesaan, masing-masing memiliki spesifikasi baik untuk menetapkan komoditas yang akan ditanam, besarnya skala usaha pekarangan, maupun cara menata tanaman, ternak, dan ikan.

a. Pekarangan Perkotaan : Pekarangan perkotaan dikelompokkan menjadi 4, yaitu:

(1) Perumahan Tipe 21, dengan total luas lahan sekitar 36 m2;

(2) Perumahan Tipe 36, luas lahan sekitar 72 m2;

(3) Perumahan Tipe 45, luas lahan sekitar 90 m2;

(4) Perumahan Tipe 54 atau 60, luas lahan sekitar 120 m2.

 

b. Pekarangan Perdesaan: Pekarangan perdesaan dikelompkkan menjadi 4, yaitu

(1) Pekarangan sangat sempit (tanpa halaman),

(2) Pekarangan sempit (<120 m2),

(3) Pekarangan sedang (120-400 m2), dan

(4) Pekarangan luas (>400 m2).

 

 

  1. 2. Diversifikasi pangan lokal

Dalam upaya penenganekaragaman konsumsi pangan non beras perlu inovasi teknologi budidaya dan proses pengolahan pasca panen. Selain teknologi tersebut introduksi komoditas unggulan daerah dan kearifan lokal yang sudah adaptif merupakan alternatif yang dapat dikembangkan.

 

  1. 3. Kebun Bibit Desa (KBD)

Untuk menjamin kelestarian dan keberlanjutan usaha pemanfaatan pekarangan, maka ketersediaan bibit menjadi faktor yang menentukan keberhasilan. Oleh karena itu perlu dibangun Kebun Bibit Desa (KBD) untuk mempermudah akses bibit/ benih dan dikelola secara baik di setiap Kawasan Rumah Pangan agar Lestari.

Keberlanjutan pengembangan rumah pangan lestari dapat diwujudkan melalui pengaturan pola dan rotasi tanaman termasuk sistem integrasi tanaman-ternak dan model diversifikasi yang tepat sehingga dapat memenuhi pola pangan harapan dan memberikan kontribusi pendapatan keluarga.

 

  1. 4. Konservasi tanaman

Konservasi tanaman lokal sebagai sumberdaya genetik yang ditujukan untuk mempertahankan kelestarian sumberdaya genetic lokal yang ada di wilayah Kalimantan Barat mencegah laju kepunahan. Banyak tanaman umbi-umbian lokal yang juga banyak di budidayakan masyarakat hasilnya untuk di konsumsi dan selebihnya untuk dijual. Permintaan pasar cukup baik terbukti dari harga komoditas umbi-umbian relatifcukup tinggi.

 

Berdasarkan fenomena tersebut diatas, kegiatan M-KRPL perlu di replikasikan tiap Kabupaten/ Kota se Kalimantan Barat dalam menggerakan perempuan untuk optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan di dukung oleh instansi terkait dan elemen masyarakat.

 

 

Tujuan & Sasaran

Tujuan

Untuk menucukupi kebutuhan pangan dan gizi keluarga, meningkatkan pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tujuan Tahun 2012

  1. Meningkatkan keterampilan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan, buah, sayuran dan tanaman obat keluarga (toga), pemeliharaan ternak unggas dan ikan lele, pengolahan hasil serta pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos.
  2. Membentuk Rancang bangun model KRPL di 11 (sebelas) lokasi sebagai model percontohan untuk diadopsi oleh penduduk di dusun-dusun lain diwilayah Kabupaten /Kota.
  3. Mencukupi kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat secara lestari bagi seluruh rumah tangga sasaran.
  4. Mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga dan menciptakan lingkungan hijau yang bersih dan sehat secara mandiri.

 

SASARAN

Berkembangnya kemampuan keluarga dan masyarakat secara ekonomi dan sosial, dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi secara lestari, menuju keluarga dan masyarakat yang mandiri dan sejahtera.

 

Keluaran

Tercukupinya kebutuhan pangan dan gizi keluarga, meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Keluaran (antara) Tahun 2012

  1. Meningkatnya keterampilan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan, buah, sayuran dan tanaman obat keluarga (toga), pemeliharaan ternak unggas dan ikan lele, pengolahan hasil serta pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos.
  2. Terbentuknya Rancang bangun model KRPL di 11 (sebelas) lokasi sebagai embrio atau model percontohan di wilayahnya untuk diadopsi oleh dusun-dusun lain diwilayah Kabupaten /Kota.
  3. Tercukupinya kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat secara lestari bagi seluruh rumah tangga sasaran.
  4. Berkembangnya kegiatan ekonomi produktif keluarga dan menciptakan lingkungan hijau yang bersih dan sehat secara mandiri.
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com